Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Janganlah Kamu Bersedih Allah Bersama Kita
By : Khayr Gathan
“Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.” (At-Taubah:40)
Lalu, bagaimana jika kita tetap merasa bersedih? Ini artinya ada
sesuatu yang salah dalam hati kita. Dalam ayat diatas, kita tidak perlu
bersedih sebab Allah beserta kita. Jika kita masih tetap saja bersedih,
artinya kita belum merasakan kedekatan dengan Allah.
Yang dimaksud bersedih bukanlah berarti menangis. Menangis dalam
rangka takut dan berharap kepada Allah malah dianjurkan supaya kita
bebas dari api neraka. Bersedih yang dilarang adalah kesedihan akibat
ketidaksabaran, tidak menerima takdir, dan menunjukan kelemahan diri.
Bersedih Itu Manusiawi
Para Nabi bersedih. Bahkan Rasulullah saw pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang mencintai dan dicintai beliau. Namun, para Nabi tidak berlebihan dalam sedih. Para Nabi segera bangkit dan kembali berjuang tanpa larut dalam kesedihan.
Para Nabi bersedih. Bahkan Rasulullah saw pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang mencintai dan dicintai beliau. Namun, para Nabi tidak berlebihan dalam sedih. Para Nabi segera bangkit dan kembali berjuang tanpa larut dalam kesedihan.
Janganlah Kami Bersedih Karena Tidak Diajarkan
Bersedih (selain takut karena Allah) tidak diajarkan dalam agama.
Bahkan kita banyak menemukan ayat maupun hadist yang melarang kita untuk
bersedih.
“Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS.At-Taubah:40)
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu
bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS.Ali ‘Imran:139)
Rasulullah saw pun berdo’a untuk agar terhindar dari kesedihan,
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran;
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. Tiada Tuhan
kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud)
Janganlah Kami Bersedih – Caranya
Jika kita melihat ayat dan hadits yang disebutkan diatas, setidaknya
kita sudah memiliki dua solusi agar kita tidak terus berada dalam
kesedihan.
Pertama: dari ayat diatas (At Taubah:40) bahwa cara
menghilangkan kesedihan ialah dengan menyadari, mengetahui, dan
mengingat bahwa Allah bersama kita. Jika kita sadar bahwa Allah bersama
kita, apa yang perlu kita takutkan? Apa yang membuat kita sedih. Allah
Maha Kuasa, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik
bagi kita.
Saat kesedihan terus menimpa kita, mungkin kita lupa atau hilang
kesadaran, bahwa Allah bersama kita. Untuk itulah kita diperintahkan
untuk terus mengingat Allah.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’d:28)
Dari ayat ini, kita sudah mengetahui cara menghilangkan kesedihan, kecemasan, dan ketakutan yaitu bidzikrillah, dengan berdzikir mengangat Allah.
Saat saya mengalami kesedihan, ketakutan, atau kecemasan, ada tiga kalimat yang sering saya gunakan untuk berdzikir.
- Istighfar, memohon ampun kepada Allah.
- La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
- Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung)
- Tentu saja, masih banyak kalimat-kalimat baik lainnya yang bisa Anda ucapkan
Alhamdulillah, kesedihan, kecemasan, dan ketakutan menjadi sirna
setelah berdzikir dengan kalimat-kalimat diatas. Tentu saja, bukan saja
dzikir di lisan tetapi harus sampai masuk ke hati.
Kedua: cara menghilangkan kesedihan ialah dengan
berdo’a seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw. Nabi pun meminta
pertolongan Allah, apa lagi kita, jauh lebih membutuhkan pertolongan
Allah. Maka berdo’alah.
Tentu saja, masih banyak cara supaya kita tidak bersedih. Saya bisa
menulis buku tebal jika mau membahas semuanya. Namun, dengan dua cara
utama diatas kita akan mendapatkan mamfaat yang luar biasa. Bersedih
masih mungkin kita alami, tetapi tidak lagi bersedih yang berlebihan dan
berlarut-larut. Karena hidup dan perjuangan harus berjalan terus.
Janganlah kamu bersedih!
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Sumber : http://www.motivasi-islami.com/janganlah-kamu-bersedih/
Penulisan Assalamu'alaikum Jangan Pernah Disingkat
By : Khayr Gathan
Assalamu'alaikum wr. wb.
Setelah membaca sebuah artikel tentang penulisan assalamu'alaikum wr wb saya ingin berbagi kepada para pembaca sekalian.Saya juga baru tahu kali,maka dari itu saya akan ngeshare supaya kalian bisa tau apa maksud dari apa yang akan anda lakukan.Yukk....!!!!langsung ke penjelasannnya
1. Asala = orang bodoh ; keledai
2. Ass = pantat
3. Askum = celakalah kamu
4. Assamu = racun
5. Samlekum = matilah kamu
6. Salom/syalom= dari bhs Ibrani untuk sesama kristen dan ada 263 kata di dalam kitab perjanjian lama dan perjanjian baru.
7. Mikum = (dari bahasa Ibrani) Mari Bercinta.
Yuk kita lihat isi surat Nabi Sulaiman dalam Al-Quran :
"Innahu min Sulaimana wa innahu Bismillahirohma anir rohiim 'ala ta'lu 'alayya wa'tunil muslimina tho'inalloha robbal 'aalamiin."
Salam pendek, salam sedang dan salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi dan tidak merubah makna aslinya :
1. Salam pendek :"Assalamualaikum". dengan 10 kebaikan.
2.Salam sedang :"Assalamualaikum warohmatullah". dengan 20 kebaikan.
3. Salam panjang :"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh".dengan kebaikan sempurna
Wallahu'alam.Mungkin cukup sekian postingan kali ini.Semoga Bermanfa'at.Sampai berjumpa lain waktu
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Tag :
islam,
Setiap Komentar akan Dimintai Pertanggung Jawaban oleh Allah Taala
By : Khayr Gathan
Assalamualaikum wr. wb.
Sesuai dengan judulnya maka kali ini saya akan memposting sebuah hal kecil tapi mungkin bermanfaat bagi anda yang mau membacanya.Di era sekarang ini banyak sekali jejaring sosial termasuk blogger, kiranya sangat diperlukan untuk mengingatkan diri pribadi khususnya dan kaum muslim secara umum beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan pemberian komentar.Supaya kita bisa terhindar dari apa yang dilarang oleh agama.Postingan ini saya buat setelah membaca dari Sumbernya. Dengan begitu silahkan anda baca.
1.Komentar adalah sama dengan ucapan, dan setiap ucapan akan dicatat oleh para malaikat pengintai yang bersifat Raqib dan ‘Atid, yang kemudian akan dimintai pertanggungjawaban di hari kimat.
{مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ} [ق: 18]
Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” QS. Qaaf: 18.
Ibnu Katsir rahimahullah menafsikan ayat ini, beliau berkata:
{ مَا يَلْفِظُ } أي: ابن آدم { مِنْ قَوْلٍ } أي: ما يتكلم بكلمة { إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ } أي: إلا ولها من يراقبها معتد لذلك يكتبها، لا يترك كلمة ولا حركة، كما قال تعالى: { وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ } [ الانفطار: 10 -12 ].
“Maksud dari “Tiada Ucapan pun” adalah dari anak manusia, maksud dari “yang diucapkannya” adalah yang dibicarakannya dengan sebuah pembicaraan, maksud dari “Melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” adalah melainkan ada yang mengawasinya selalu untuk itu, ia menulisnya dan tidak meninggal satu kalimat serta satu gerakan pun, sebagaiman Firman Allah Ta’ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),” “yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),” “Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Infithar: 10-12.” Lihat kitab tafsir Ibnu Katsir rahimahullah pada ayat di atas.
Beliau rahimahullah juga berkata:
وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: { مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ } قال: يكتب كل ما تكلم به من خير أو شر، حتى إنه ليكتب قوله: "أكلت، شربت، ذهبت، جئت، رأيت"، حتى إذا كان يوم الخميس عرض قوله وعمله، فأقر منه ما كان فيه من خير أو شر، وألقى سائره، وذلك قوله: { يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ } [ الرعد: 39 ]، وذكر عن الإمام أحمد أنه كان يئن في مرضه، فبلغه عن طاوس أنه قال: يكتب الملك كل شيء حتى الأنين. فلم يئن أحمد حتى مات رحمه الله (4) .
“Berkata Ali bin Abu Thalhah, rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” maksudnya ditulis setiap apa ia ucapkan, dari hal yang baik atau yang buruk, sampai-sampai akan ditulis perkataanya: “Saya makan, saya minum, saya pergi, saya datang dan saya melihat”, sampai jika pada hari Kamis dihadapkan perkataan dan perbuatannya , lalu di tetapkan apa saja yang di dalamnya berupa kebaikan dan keburukan dan dibuang seluruhnya, dan itu adalah firman Allah Ta’ala: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umulkitab (Al Lauh Al Mahfuzh).” QS. Ar Ra’du: 39.
Disebutkan tentang Imam Ahmad rahimahullah bahwa beliau merintih kerika sakit yang beliau derita, lalu disampaikan kepada beliau bahwa Tahwus rahimahullah pernah berkata: “Malaikat akan menulis segala sesuatu sampai rintihan”, maka tidak pernah Imam Ahmad merintih setelah itu sampai beliau meninggal.” Lihat kitab tafsir Ibnu Katsir rahimahullah pada ayat di atas.
2.Komentar harus dari jauhi dari perkataan yang berbentuk cacian, makian, kasar, jorok dan keji.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ ».
Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah seorang beriman seorang yang suka mencaci, melaknat, berkata keji (kotor/porno) atau kasar.” HR. Tirmidzi.
3.Komentar hanya diberikan jika diperlukan sebagaimana berbicara asal hukumnya diam kecuali untuk kebaikan, karena di dalamnya terdapat keselamatan.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ».
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam.” HR. Muslim.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini:
وأما قوله صلى الله عليه و سلم فليقل خيرا أو ليصمت فمعناه أنه اذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه واجبا اومندوبا فليتكلم وان لم يظهر له أنه خير يثاب عليه فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه وهذا يقع في العادة كثيرا أو غالبا وقد قال الله تعالى ما يلفظ من قول الا لديه رقيب عتيد
“Adapun sabda beliau “maka berkatalah yang baik atau diam”, maknanya adalah jika ia ingin berbicara, maka jika apa yang ia bicarakan benar-benar baik dan akan diganjar atasnya baik berupa wajib atau sunnah, maka hendakanya ia berbicara. Jika tidak Nampak baginya bahwasanya perkataan itu baik yang akan diganjar atasnya, maka hendaklah ia menahan perkataanya, baik Nampak baginya bahwa perkataan itu haram atau makruh atau mubah sama derajatnya. Atas ini, perkataan yang mubah diperintahkan untuk meninggalkannya, dianjurkan untuk menahannya karena ditakutkan memasukkan ke dalam hal yang diharamkan atau dimakruhkan, dan ini sering terjadi dalam kebiasaan, padahal Allah Ta’ala telah berfirman: “Tidak ada ucapan pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang mengawasi.” Lihat Kitab Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim, 1/49 (Asy Syamela)
Seorang yang selalu menjaga lisannya ia akan selamatnya
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ « أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ ».
Artinya: “’Uqbah bin ‘Amir radhiyallahub ‘anhu berkata: “Aku bertanya: “wahai Rasulullah, apakah keselamatan?”, beliau bersabda menjawab: “Jagalah lisanmu dan diaml;ah di rumahmu dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” HR. Tirmidzi.
4.Komentar jangan asal-asalan karena ditakutkan mengandung hal yang dimurkai Allah Ta’ala.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ » .
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba, benar-benar berucap dengan sebuah ucapan yang tergolong dari keredhaan Allah, ia tidak memperdulikannya, niscaya Allah akan mengangkat derajat dengannya dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar berucap dengan sebuah ucapan yang tergolong dari kemurkaan Allah, ia tidak memperdulikannya, akan menjatuhkannya dengannya ke dalam Neraka Jahannam.” HR. Bukhari.
عَنْ بِلاَلِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا عَلَيْهِ سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ».
Artinya: “Bilal bin Al Harits Al Muzani radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba, benar-benar berucap dengan sebuah ucapan yang tergolong dari keredhaan Allah Azza wa Jalla, ia tidak mengira ucapan tersebut akan sampai kepada ia capai, niscaya Allah Azza wa Jall akan menuliskan keredhaan-Nya sampai hari kiamat dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar berucap dengan sebuah ucapan yang tergolong dari kemurkaan Allah, ia tidak mengira ucapan tersebut akan sampai kepada apa yang ia capai, niscaya Allah Azza wa Jall akan menuliskan kemurkaan-Nya sampai hari kiamat.” HR. Ahmad.
‘Alqamah (muridnya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) rahimahullah sering berkata:
كَمْ مِنْ كَلاَمٍ قَدْ مَنَعَنِيهِ حَدِيثُ بِلاَلِ بْنِ الْحَارِثِ
“Berapa banyak perkataan telah menahankanku untuk mengucapkannya adalah hadits Bilal bin Harits ini.”
وقال الحسن البصري وتلا هذه الآية: { عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ } : يا ابن آدم، بُسطت لك صحيفة، ووكل بك ملكان كريمان أحدهما عن يمينك، والآخر عن شمالك، فأما الذي عن يمينك فيحفظ حسناتك، وأما الذي عن يسارك فيحفظ سيئاتك فاعمل (3) ما شئت، أقلل أو أكثر حتى إذا مت طويت صحيفتك، وجعلت في عنقك معك في قبرك، حتى تخرج يوم القيامة، فعند ذلك يقول: { وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا } [ الإسراء: 13 ، 14 ] ثم يقول: عدل -والله-فيك من جعلك حسيب نفسك.
5.Komentar adalah cerminan pribadi seseorang.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ ».
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Termasuk kebiakan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya.” HR. Tirmidzi.
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رَفَعَهُ قَالَ « إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا ».
Artinya: “ Abu Sa’id Al Khudhry radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika anak manusia masuk watu pagi, sesungguhnya seluruh anggita tubuh mengadu kepada lisan, mereka berakta: “Takutlah kamu kepada Allah tentang kami, sesungguhnya kami akan bersamamu, jika kamu lurus mak kami akan lurus dan jika kamu berbelok kami akan berbelok.” HR. Tirmidzi.
Nawawi rahimhullah berkata: “
روينا عن الاستاذ أبى القاسم القشيرى رحمه الله قال الصمت بسلامة وهو الأصل والسكوت فى وقته صفة الرجال كما إن النطق في موضعه من أشرف الخصال
“diriwayatkan kepada kami bahwa Ustadz Abu Al Qasim Al Qusyairy rahimahullah berkata: “Diam adalah keselamatan dan ia adalah hukum asal, dan diam pada waktunya sifatnya orang-orang terpandang, sebagaimana berbicara pada tempatnya termasuk sifat yang mulia.”
Beliau rahimahullah juga berkata:
وروينا عن الفضيل بن عياض رحمه الله قال من عد كلامه من عمله قل كلامه فيما لا يعنيه وعن ذى النون رحمه الله أصون الناس لنفسه أمسكهم للسانه والله أعلم
“Diriwayatkan kepada kami bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang menghitung-hitung perkataannya dari perbuatannya maka akan sedikit perkataannya terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya. Dan diriwayatkan dari Dzin Nun rahimahullah, ia berkata: “Serorang yang paling menjaga dirinya diantara manusia adalah yang paling menjaga lisannya.” Lihat Kitab Al Minhaj Syarah Shahih Muslim, 2/19 (Asy Syamela). Wallahu a’lam.
Cukup sekian dulu postingan kali ini.semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Tag :
islam,
